16 December 2019

Empty

"I don't know..
When i see you, tonight i'm drowning.

It isn't easy being so in love with you and not being able to see you every day. There are times when l'd give anything just to be able to gaze into your eyes or hold you in my arms, even for a few minutes. I always feel incomplete, like a part of me is missing, when we're not together. I know that right now this is how things have to be, but that doesn't make it any easier to bear. Every day without you reminds me of the joy you add to my life, joy that l'm missing. So don't forget that I love you, that l'm thinking of you, and that l'm counting every minute until we're together again, final journey "

Ketika kamu menanyakan ujung perjalanan, aku tidak pernah tau aku akan membawamu kemana?

Statement yang jelas diawal tulisan membuat kita harusnya sedikit berpikir bahwa sejauh apapun tujuan tapi selalu ada akhir dalam setiap perjalanan. Baik atau buruk tergantung dari kita menuju kearah mana. Kita selalu bercerita mengenai pilihan-pilihan bahkan sesekali kamu menertawakan pilihanku, termasuk akhir dari beberapa perjalanan yang pernah kita rencanakan.

Suatu waktu karena terlalu bosan kita memilih hotel dengan view senja yang sangat baik tapi kita melewatkan view itu karena barcode belanjaan terlihat lebih menarik dibanding istirahat di kamar yang nyaman dengan view yang kita bayar mahal. ujungnya hanya ada dua orang gaduh meributkan senja yang lewat karena hal sepele. Kadang kita melewatkan beberapa hal yang krusial dalam hidup kita untuk hal-hal yang remeh temeh.

Kali ini..
Aku sangat merindukan suasana senja di Bali, sendiri diatas rooftop Citadines, menikmati Kuta diatas ketinggian dengan minuman dan bed bathing yang bagus. Tanpa memikirkan akan kemana akhir perjalanan setelah Bali ini selesai, apakah melanjutkan sisi utara Lombok yang menawan atau kembali ke Jakarta menikmati kemacetan Jakarta ditengah sinisme SARA dan begundal-begundal intoleran berjubah agama. Ptivately, tentu aku akan memilih Bali tapi kenyataannya Jakarta tetap tidak bisa ditinggalkan.

Kemudian hidup..
Menuntut kita untuk realistis bahwa tidak ada yang benar-benar abadi. Semua mempunyai giliran meninggalkan atau ditinggalkan. Bahkan ketika mempunyai tujuan akhir dengan orang yang kita cintai, ditengah usia yang meredup akan membawa kita di fase kehilangan dan memberikan luka yang cukup fatal. Tapi ini hanyalah siklus, rentang waktu 1 tahun atau 12 tahun telah memberi satu pemahaman yang maksimal bahwa tujuan akhir dari harapan adalah siap menikmati kekecewaan, dan moral storynya adalah jangan bermimpi terlalu tinggi ketika kita dibatasi oleh numerik illahi.

Cukuplah menikmati kesempata untuk saling melengkapi, bahkan ketika jarak mulai membunuh semua harapan. Percayalah Tuhan akan selalu mengganti dengan hal-hal baik lainnya. Jatuh cintalah, nikmati lukanya, kemudian bangkit dan mulai cintai dirimu sendiri. Ketika kamu ada di fase mencintai dirimu, percayalah sebanyak apapun orang menyakitimu kamu tidak akan membalas bahkan kamu akan tertawa untuk luka-luka mereka.